|

Di Taiwan

Genre: Romance
----Hangeng POV----
“Wo bu yao.....!(aku tidak mau!)” pekikku keras saat Laupa bilang mau menjodohkanku dengan gadis korea itu.
“ayolah sayang, kamu kan belum liat So kyo itu seperti apa, Mama jamin kamu gak akan nyesel deh” bujuk mamaku.
“Benar Hanggeng, So Kyo itu cantik, kamu liat dulu fotonya” ucap Laupaku sambil menyodorkan foto gadis bernama Park So Kyo itu.
“Nggak...aku peduli, mau dia cantik kek, mau jelek kek, pokoknya aku nggak mau dijodoh-jodohin” tolaku.
“Hangeng! Kali ini kesabaran Laupa sudah habis. Pokoknya kalo kamu tetep ngotot gak mau dijodohkan dengan So Kyo, kamu bukan anak ku lagi” bentak Laupa padaku. Seluruh tubuhku lemas rasanya mendengar ancaman Laupa barusan. 
“Hangeng lebih baik kau terima saja perjodohan ini, kami yakin So Kyo adalah gadis yang tepat untukmu?” ucap Mamaku lembut.
“Baiklah, Ma, Pa. Aku meneima perjodohan ini” kataku pasrah. Meskipun aku sama sekali tidak suka dengan perjodohan ini. Namun aku juga tidak mau dianggap anak durhaka karena telah menentang orang tuaku sendiri.
“Bagus, kalau begitu sekarang kemasi barang-barangmu, karena besok kita sekeluarga akan terbang ke Seoul” ucap Laupa.
“Senme (apa)?! Seoul? Untuk apa kita kesana?”tanyaku tidak mengerti
“tentu saja untuk mempertemukanmu dengan anak sahabat Laupa itu” cetus Laupaku.
“Lalu, berapa lama kita disana?” tanyaku lagi.
“kita akan pindah ke Seoul sayang, Laupa sudah membeli rumah di seoul untuk kita tinggali” ujar Mamaku lembut
“Lalu bagaimana dengan kuliahku? Apa aku akan putus kuliah?!” aku semakin tidak mengerti
“kau meneruskan kuliahmu di Korea, tepatnya di Seoul” cetus Laupa
“Baiklah, aku akan menuruti semua keinginan kalian, tapi aku tidak mau menikah sebelum menyelesaikan kuliahku” 
“kami juga tidak bermaksud menikahkanmu dalam waktu dekat ini, kalian hanya akan bertungan, soalnya gadis yang akan kami jodohkan denganmu juga masih SMA kelas 1”jelas Mamaku
‘Hah! Kelas 1 SMA, jadi aku akan bertungan dengan anak kecil, yang benar saja, padahal sekarang aku sudah kuliah semester 5, Aish! Ingin sekali aku kabur sejauh-jauhnya dari sini untuk menghindari perjodohan bodoh ini’ pikirku.
*******
Di bandara Seoul
Siang ini aku dan orang tuaku tiba di bandara seoul. Ini bukan pertama kalinya aku menginjakan kaki di Seoul. Meskipun aku besar di Taiwan, namun keluargaku sering mengajaku ke korea untuk mengunjungi saudara-saudara mamaku. Iya, mamaku itu memang asli orang korea. Meskipun begitu, itu tidak membuatku fasih berbahasa Korea. Tapi juga nggak bego-bego amat. Boleh dibilang bahasa Koreaku paspasanlah. Aku juga punya sepupu di Seoul, namanya Kim Heechul, dia adalah anak dari kakanya mamaku. Dialah satu-satunya orang yang membuatku betah lama-lama di Korea. karena selain sepupu, dia itu juga sahabat terdekatku.
*******
Setelah dari bandara, aku dan keluargaku melanjutkan perjalanan menggunakan taksi. Di dalam taksipun aku lebih banyak diam. Jujur sampai detik ini aku masih belum bisa menerima perjodohan ini.
“Hangeng!” panggil Laupa
“iya laupa..”jawabku.
“nanti setelah sampai di kediaman keluarga Park, kau harus bisa menjaga sikapmu ya. Kau harus sopan, jangan membuat kami malu” pinta Laupaku
“Loh..Pa, emangnya kita nggak kerumah dulu?” tanyaku
“Nggak, kita langsung menuju kediaman keluarga Park, dan malam ini kita menginap di sana
“kenapa pa? Bukankah Laupa bilang udah beli rumah buat kita? kenapa harus nginep di rumah orang segala” aku benar-benar tidak mengerti dengan rencana mereka.
“Ah...sudah nggak usah banyak nanya”jawab laupa datar.
Sesampainya di kediaman keluarga Park
“Whuchun-ah! Akhirnya kau datang juga kami sudah menunggu...” ucap Om om itu yang aku yakin adalah ayah dari calon tunanganku sambil memeluk Laupaku.
“Maaf ya kami tidak menjemput kalian di Bandara” kata Om itu lagi sambil melepaskan pelukannya pada Laupaku.
“Ah...tidak apa, Ow ya, ini Hankyung putraku” ucap Laupa memperkenalkanku. Hankyung adalah nama koreaku.
“Anyohaseo...chonun Hankyung imnida (halo...nama saya Hankyung)” ucapku sambil membukukan badan layaknya orang2 korea saat memperkenalkan diri.
“Ya sudah, mari masuk...” kata seorang wanita paruh baya yang aku yakin kalau dia adalah ibunya calon tunanganku.
Kami pun masuk dan duduk di sofa.
“Isrtiku...panggilkan So Kyo” ucapnya pada istrinya.
Tidak lama kemudian, Ny. Park keluar dengan seorang gadis yang aku yakin itu adalah Park So Kyo, cantik memang. Dia tinggi dan langsing, kulitnya putih mulus, rambutnya terurai dengan panjang sebahu. Dia tersenyum pada kami. 
“Nah...ini dia anaku Park So Kyo” ucap Tn. Park
“Wah..ternyata lebih cantik dari yang difoto ya”ujar Mamaku
“So Kyo, Hankyung...kalian ngobrol-ngobrol saja dulu di teras belakang dekat kolam renang” pinta Tn. Park.
Di taman belakang
Rumah keluarga Park memang bisa dibilang sangat mewah. Mereka mempunyai kolam renang di dekat teras belakang. Kolam renang yang sangat besar dan mewah. Aku dan So Kyo duduk di kursi kayu yang tersedia di teras ini menikmati senja yang indah.
“Oppa! (kakak)” pekiknya
“hen...” jawabku malas, sambil main hape.
“Apa..oppa tidak suka dengan perjodohan ini?” tanyanya
“Tidak....” jawabku sejujur-jujurnya. Aku melihat kearahnya sekilas. Kuliat ia menyatukan kedua alisnya.
“kenapa oppa tidak suka? Oppa tidak suka padaku?” tanyanyalagi
“Tidak...”aku mengulang jawanku yang tadi sambil tetap memainkan hapeku.
“Apa aku tidak cantik?”ucapnya polos
“kau cantik, tapi aku tetap tidak suka. Pokoknya aku nggak suka di jodoh-jodohin kayak gini, emang kamu setuju dengan perjodohan bodoh ini?” tanyaku dingin
“Ne...” jawabnya singkat.
“cih..”aku mencibir.
“terus terang aku senang sekali begitu orang tuaku manjodohkanku denganmu” ujarnya.
“Mwo?! (apa?!)Memangnya kau menyuakaiku?” tanyaku
“Ne oppa (iya kak) aku menyukaimu” jawabnya seraya tersenyum manis. 
‘Ah...jujur sekali dia’ pikirku
“kok bisa, kamu kan belum mengenalku, emang kamu udah pernah liat aku sebelumnya?”interogasiku
“Aku memang belum pernah melihat Oppa sebelumnya. Tapi begitu aku disodori foto oppa oleh Appa (ayah), aku langsung suka, dan merasa kalo oppalah jodohku” jawabnya antusias.
Aku Cuma melongo mendengar jawaban polosnya. 
“Kau terus sekali ya...”kataku datar. 
Aku benar-benar lelah saat ini, mataku rasanya berat. Ingin sekali aku merbahkan diri di kasur yang empuk untuk mengistirahatkan tubuhku ini, karena memang aku sama sekali belum istirahat setelah menempuh perjalan Taiwan-Korea. 
“Oppa lelah? Ngantuk?” tanyaya ramah
“Ne...(ya)” jawabku singkat.
“Ya udah..aku antar ke kamar Oppa yuk” ajaknya sambil menarik lembut tanganku. Berani sekali dia menyentuh tanganku, padahal baru aja kenal.
“Ni kamar oppa” ucapnya sambil membukakan pintu kamar yang sudah di siapkan untuku. Wow..kamar yang unik. Kamar bernuansa black and white yang minimalis. Tidak terlalu besar memang, tapi kamar ini benar-benar enak dipandang. 
“Ya uda deh oppa, met istirahat ya, aku juga mau ke kamarku untuk istirahat. Ow ya. Kamarku ada di samping kamar oppa. Jadi kalo butuh apa-apa panggil aku saja ya” ucapnya ramah dan berlalu ke kamarnya.
Aku merebahnkan tubuhku di kasur, Huh..nyaman sekali rasanya. Aku memejamkan mataku dan langsung terlelap. Keesokan harinya aku dikagetkan dengan bunyi ponselku, aku mengangkat telpon itu dengan malas dan mata masih terpejam. “Hangeng! Ini Laupa” kata orang di seberang sana. Aneh kenama Laupa menelponku. Bukankan kita ada di rumah yang sama. Hah..buang-buang pulsa saja. “Laupa...kenapa telpon? Langsung kemarku kan bisa” ujarku. “Ke kamarmu? mana bisa? Laupa sekarang sudah tiba Taipei” jawab Laupaku santai. Aku langsung tersentak bangun dari tempat tidur dan membelalakan mataku. “A...apa..!
aipei!” pekiku tak percaya.
“Iya, kami baru sampai, ini juga masih di bandara” jawab suara di seberang sana.
“Laupa dan Mama, kapan perginya?” tanyaku tidak mengerti
“tadi pagi, kami menggunakan pesawat dengan jadwal penerbangan setengah lima pagi”
Aku langsung melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar ini, waktu sudah menujukan pukul 7.30.
“tapi-tapi...kenapa kalian pulang ke Taiwan?” aku semakin tidak mengerti
“Maaf kami telah membohongimu, sebenarnya Laupa tidak membeli rumah di Seoul, itu hanya alasan Laupa saja agar kamu mau tinggal di Korea
“Jadi ini rencana kalian, kalian ingin aku tinggal di sini, di rumah keluarga Park!” teriaku emosi
“iya, ini kami lakukan agar kamu bisa lebih dekat dengan tunanganmu” ujarnya dan langsung menutup telponnya. “Wei....wei....(halo...halo....)” pekiku. “Shit! Aku di tipu mentah-mentah!” ucapku kesal, sambil melampar hapeku keranjang.

Bersambung.....



MOHON KRITIK DAN SARAN DARI PEMBACA YANG BUDIMAN
UNTUK MASUKAN BAGI PENULIS
TERIMA KASIH

Irma 'Michi' Puspitasari 19 September jam 18:54 Laporkan

Posted by mading man sumpiuh on 20.02. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Di Taiwan"

Leave a reply

Silakan tinggalkan pesan BOZ .....

Arsip Blog